Already 25

Gue yakin gak cuma gue doang yang setahun terakhir ini rasanya kelabakan, kebirit-birit, kelimpungan dikejar waktu. Apalagi anak-anak kota besar yang hidupnya dinilai dengan waktu dan uang.

Setahun terakhir ini gue secara sadar maupun ngga, ngerasa cemas sendiri karena umur udah mau 25, yang konon katanya marking a quarter of your life. Gue dikelilingi oleh rasa kebelet. Seharusnya umur 25 uda begini uda begitu uda bisa ini uda bisa itu, tapi pada kenyataannya jauh banget dari ekspektasi. Akhirnya kecewa, akhirnya stres, akhirnya pusing sendiri.

Lalu datenglah hari ulang tahun gue yang ke-25. Dan tiba-tiba gue sadar, ternyata umur 25 gak gimana-gimana amat. Gue gak berubah jadi nenek tua expired, gue gak berubah jadi mak lampir perawan tua miskin papa tak berdaya kok. Itu semua cuma ketakutan gue sendiri karena gue membatasi diri gue untuk berkarya dan sukses sebelum gue umur 25. Padahal, sebetulnya waktu gue masih panjang dan masih banyak banget opportunity ke depan yang belom bisa gue liat sekarang.

Lalu gue mikir, kok bisa sih ada fenomena kaya gini? Kebelet kawin lah, kebelet jadi manager lah, kebelet punya bisnis sendiri lah, kebelet beli rumah beli mobil, bahkan kebelet punya anak segala! Kok semua peers gue keliatan stres dan tertekan karena merasa dikejar umur sih? Trus, kenapa cuman manusia sih yang ada fenomena dikejar umur? Binatang kok ngga?

Dan gue pun melek. Manusia itu dari kecil dicekokin prinsip “Ayo cepetan, jangan terlambat, nanti kamu gak keburu, nanti kamu ketinggalan!”

Dari kecil manusia ditanamkan bahwa waktu itu sangat terbatas dan waktu samadengan uang dan kesuksesan. Well, di satu sisi, ada bagusnya. Waktu kerja kita memang terbatas, jadi jangan terlambat masuk, nanti gak selesai kerjaan, repot sendiri. Waktu sekolah kita memang terbatas, gali ilmu dan nikmatinlah selagi bisa. Waktu kita bareng temen dan keluarga memang terbatas, jadi sayangilah mereka selagi sempet. That’s all true.

Kejelekannya adalah, kadang kita nerapin konsep tersebut dalam aspek hidup yang sebetulnya gak perlu diburu-buru. Contohnya:

“Uda mau 25 nih, gila blom ada cowo, kapan kawinnya gue?”

“Uda mau 25 woy, gila masih aja gonta ganti kerjaan terus, mau jadi apa lu?”

“Uda mau 25 nih, jabatan sama gaji masih segitu-gitu aja, kapan suksesnya gue?”

“Uda mau 25 woy, belom ada bisnis sendiri mah mau kapan kebeli mobil sama rumah bray?”

“Uda mau 25 woy, yakin masih mau manggung-manggung gitu, gak mau ngantor aja biar stabil hidup lu?”

“Uda mau 25 woy, yakin lu mau jaga toko aja, gak ada mimpi laen? Gak sayang kuliah lu gak kepake?”

Sedep kan? Sedeeep…

Kadang-kadang semua itu datengnya dari temen dan orangtua kita sendiri yang sebetulnya concerned sama hidup kita, which is actually good. Kadang kita emang suka keenakan trus lupa harus kerja lebih rajin menggapai mimpi, tapi seringkali juga semua itu datengnya dari dalem diri kita sendiri dan bikin kita jadi merasa dikejar-kejar umur, ujung-ujungnya stres sendiri karena yang kita mau belom juga tercapai.

Jadi perlu gak sih sadar tentang waktu dan umur? Perlu. Perlu gak sih kerja keras dan berdikari? Perlu.

Tapi sekali lagi, sebagaimana nasehat gue biasanya, hidup itu harus balance. Gak semua hal harus instan, buru-buru, kilat khusus, JNE YES!

Memang ada beberapa hal yang perlu kita perhatiin supaya on time, apalagi urusan deadline kerjaan kantor dan bayar tagihan. Tapi yang disini gue tekenin adalah, it’s completely okay kalo mimpi kita belom terbentuk, boro-boro tercapai. It’s completely okay kalo kita belom tajir sukses. It’s completely okay kalo kita belom nemu pasangan hidup kita. It’s completely okay kalo kita belom bisa beli rumah, mobil bagus, jalan-jalan ke Eropa, makan enak tiap hari. It’s completely okay not to have everything figured out at this point.

Nikah gak perlu deadline kan? Jadi CEO gak perlu deadline kan? Jalan-jalan keliling dunia naik cruise gak perlu deadline kan?

I thought I would have everything figured out and settled by the time I am 25, but here I am, 25 and counting, and I don’t have everything figured out. Trus apa dengan gitu gue expired dan mati? Ternyata ngga tuh.

Sebaliknya, apa dengan gitu trus kita bisa dengan enak ngomong, “Oh, yaudah santai aja kalo gitu, merem melek juga entar tau sendiri mau jadi apa…” ?

NOPE.

Kita tetep harus usaha semampu kita, bangun mimpi kita, bentuk diri kita jadi lebih baik dari hari kemaren. But remember, the ark wasn’t built overnight. Hidup kita ngga kayak cerita Roro Jonggrang yang dalam semalem bikin 1000 candi.

It’s alright kalo hari ini kita belom bisa mencapai apa yang kita mau, as long as we keep at it, we’ll get there. Time is ticking, yes, but time is (almost) irrelevant.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s