Ziarah

Sesekali aku datang berziarah ke makam temanku masa kecil,
Seorang gadis berambut hitam sebahu yang mati muda.

Kuburnya tidak pernah terlalu terlantar,
Bunganya tidak pernah terlalu layu,
Rumputnya tidak pernah terlalu tinggi,
Nisannya tidak pernah terlalu berdebu.

Seakan ada orang lain yang juga sesekali berziarah ke situ,
Tanpa sempat berpapasan denganku.

Jika betul memang ada yang mengingatnya selain aku,
Memang sudah sepatutnya, batinku
Sebab gadis ini memang bukan gadis rata-rata

Bukan yang tercantik, bukan.
Bukan yang terpandai, bukan.
Tetapi dia mengingatkanku akan betapa putihnya secarik kertas,
Dan berapa dalam kertas putih itu mampu menyayat jari.

Sekali waktu aku berkunjung ke makam teman masa kecilku,
Sembari terpekur merenungi tanah di bawah kakiku.
Seperti dengan sengaja mengubur secarik kertas putih polos,
Dengan degilnya pikiran hati manusia.

Kali itu aku menoleh ke sebelah kanan batu nisannya,
Selembar obituari enam tahun lampau di bawah vas kecil berisi bunga matahari,
Parasnya, sorot matanya, senyumnya,
Hampir saja aku lupa betapa miripnya dia dengan aku.

Hanya saja aku hidup.
Dan dia mati.

31 DECEMBER 2015, 12:04 am

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s