Mimpi-mimpiku

Dalam mimpi burukku ada sebentuk bayangan gelap mendekatkan wajahnya ke wajahku.
Sebegitu dekatnya sampai ujung hidungnya menyentuh hidungku.

“Lihat mataku. Lihat,”
katanya kepadaku.
Tapi tidak ada matanya,
hanya muka dan rambut tergerai yang hitam pekat.
Aku bangun sebelum ia menelanku.

Kuarahkan mataku pada matahari yang belum terbit di ambang tertidur dan terjaga,
karena jika langit terang, aku percaya mimpiku hanyalah khayalan.

“Kalau saja mimpiku tentangmu bisa sedekat dan senyata itu,”
kataku pada diri sendiri.
Tapi yang kembali datang malah mimpi yang menakutkanku,
menyelubungi telinga dan mataku dengan seribu satu bunyi dan bentuk yang mengunci akalku.

Jemariku menggapai ke permukaan air, kakiku berusaha berenang menuju air terbuka.
Tapi sampai lelah tungkaiku mengayuh, tidak juga lepas dari rantai besi yang mengikat gelang kakiku.

Napasku dingin dan pendek, darahku membuatku kesemutan.
Setiap kali aku menoleh, mataku seperti melihat bayangan hitam sedang berenang ke arahku, di kiriku, di kananku.

Aku sungguh tidak lagi tahu apakah aku terjaga, apakah aku tertidur, apakah aku sakit, apakah aku cuma lelah, apakah aku tenggelam, apakah aku cuma kedinginan, apakah bayangan itu mirip adikku, apakah bayangan itu mirip binatang, apakah aku masih bisa, apakah aku justru sudah tidak ada lagi.

13 JANUARY 2017, 05:47 PM

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s